Cahaya di Tengah Kegelapan

Cahaya di Tengah Kegelapan

Oleh : Alvina Siti Asiyah

 

Saya berasal dari keluarga sederhana ayah seorang buruh tani dan ibu sebagai ibu rumah tangga, sejak SD  bercita-cita menjadi seorang pendidik (guru). Namun perjalanan saya tidak semulus apa yang dibayangkan. Memang yah kalau punya cita-cita ada saja lika-likunya. Tidak ada cara lain selain satu kata ini “perjuangkan!!!”.

Sejak SD sampai SMA saya selalu menjadi korban bullying oleh teman-teman sekelas. Pernah seketika waktu SMA suasana begitu hening, bahkan teman-teman menatap saya tidak seperti biasanya. Kejadian itu membuat saya jadi terheran-heran. Bahkan guru saya juga merasa heran “Kok kalian melihat Alvina segitunya?” tanya seorang guru,  mereka pun diam. Hingga salah satu teman saya mengatakan bahwa ada suara ayam. “Pasti ini di dalam tasku ayamnya”, batin saya. Ternyata benar saja ada tiga anak ayam di dalam tas saya. Sungguh kejadian ini mengejutkan saya. Tidak hanya itu barang saya sering kali disembunyikan. Hal yang paling menyebalkan bagi saya waktu itu saat tugas mata pelajaran ekonomi yang telah dikumpulkan malah disembunyikan sampai dikira belum mengerjakan. Hal ini membuat saya selalu membawa tas atau barang  apapun itu ke mana pun pergi sekalipun jaraknya dekat dari kelas.

Tidak cukup sampai disitu pernah seketika tempat duduk saya diberi lem alteko cair, Hingga pada akhirnya kelas XI saya berkeinginan untuk berhenti sekolah karena sudah tidak kuat dengan bullying, namun pada akhirnya berubah pikiran berkat motivasi dari ibu. Alhamdulillah berkat pertolongan-Nya saya mendapatkan juara 3  dikelas pada saat kelas XI  sampai kelas XII (secara berturut-turut).

Setelah kelas XII menjadi awal perjuangan saya. Banyak teman-teman yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, begitu pun dengan saya, namun ini seperti mimpi. Tepat pada waktu sebelum ujian akhir sekolah gurunya mengumumkan adanya pendaftaran beasiswa bidikmisi. Tentu saja saya sangat antusias untuk mendaftar beasiswa ini. Hingga seketika gurunya memberi fomulir pendaftarannya saya senang sekali. Esoknya pun saya mempersiapkan berkas-berkas pendaftarannya seperti surat keterangan tidak mampu, pajak rumah, listrik, dan sebagainya.

Tanggal 29 Febuari 2016 pendaftaran SNMPTN telah dibuka, ia sangat antusias untuk mendaftar dengan pilihan pertama Universitas Negeri Malang dengan Prodi PGSD, dan pilihan kedua Universitas Negeri Jember dengan prodi yang sama.  Tepat tanggal 10 Mei  2016 adalah pengumuman SNMPTN ternyata saya belum saatnya untuk menjadi mahasiswi. Hal ini tentu saja membuat saya kecewa. Memang terkadang tidak semuanya harus berjalan mulus dan baik-baik saja sesuai dengan harapan dan keinginan. Ada saatnya untuk mengiklaskannya. Walau begitu bukan menjadikan sebuah alasan untuk berhenti berjuang.

            Tepat tanggal 25 April 2016 pendaftaran SBMPTN telah dibuka, saya sangat antusias untuk mendaftar, namun dilarang oleh ayah dan ibu karena adanya keterbatasan finansial. Saya hanya terdiam dan menangis,  Suatu hari ia menjelaskan “Ibu, ayah insyaAllah saya akan mengajukan beasiswa namanya bidikmisi yang dibiayai oleh pemerintah”,  ujarnya dengan lemah lembut. Namun ayah dan ibu tetap saja tidak percaya. Pada akhirnya saya tidak jadi mengikuti SBMPTN dan harus menunda selama satu tahun. Meski begitu saya tidak menyerah selalu berdoa disepertiga malamnya berharap Allah memberikan jalan kemudahan menuju kesuksesan serta menggerakkan hati kedua orang tua agar mengizinkan mendaftar kuliah.

Selama satu tahun menunggu saya memanfaatkan waktu senggang untuk membantu ibu menjemur kerupuk. Hingga pada suatu hari ada lowongan pekerjaan  sebagai karyawan  toko baju, saya mecoba melamar pekerjaan itu. Alhamdulillah dengan kuasa Allah saya diterima kerja di sana, namun itu hanya satu hari dengan memperoleh gaji 25.000 dikarenakan tokonya sepi. Walau begitu saya tetap bersyukur. Pada suatu hari saya berusaha untuk mencari pekerjaan yang kebetulan di kecamatan tempat tinggalnya ada rumah sakit baru. Saya pun bertanya kepada seorang dokter yang kebetulan seorang kepala rumah sakitnya “Permisi dok, ingin bertanya apa masih dibuka yah lowongan pekerjaan di rumah sakit ?”, Tanya saya. ”Maaf mbak sudah ditutup pendaftarannya. ”, ujar dokter. Mendengar hal ini saya hampir putus asa.

Hingga pada suatu hari dengan kuasanya Allah mampu membukakan pintu hati ibu saya di mana ia bertemu dengan seorang tukang sepatu yang menceritakan anaknya yang sedang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Syukur alhamdulillah ibu mengizinkan saya untuk melajutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun ibu meminta kepada saya agar tidak memberitahukan hal ini  terlebih dahulu kepada ayah.

Pada bulan Febuari beasiswa bidikmisi pun telah dibuka. Saya begitu sangat antusias mempersiapkan berkas-berkasnya seperti SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), surat keterangan tidak punya kendaraan bermotor, dan lain-lain. Sembari menunggu ujian tes SBMPTN yang semakin dekat saya gunakan waktu luang untuk belajar dengan mencari soal-soal SBMPTN di internet karena masih belum punya buku panduannya. Selain itu saya juga latihan soal TKPA dan soal matematika serta banyak membaca materi (khusus untuk TKD SOSHUM seperti Geografi, Ekonomi, Sosiologi, dan Sejarah). Setelah beberapa hari kemudian beruntungnya saya mendapatkan  pinjaman buku panduan SBMPTN dari salah satu teman. Tidak hanya itu saya juga  mencoba meminta tolong kepada salah satu guru saya waktu di SMA agar mengajarkan matematika dalam rangka ujian SBMPTN.

Seiring berjalannya waktu ayah pun tau bahwa saya akan mendaftar kuliah, yang pada akhirnya ia marah besar. Saya begitu sedih. Walau begitu saya tetap semangat, terus berdoa, dan yakin akan mimpinya.

Hingga pada suatu hari ibu mengatakan bahwa ayah setuju apabila saya kuliah. Mendengar hal ini saya sangat bahagia, semangat dan bersyukur sekali karena Allah telah membukakan pintu hati ayah. Dibalik semangat yang membara, tidak sedikit orang disekitar saya mencaci dan memberikan keyakinan negatif, bahwa cita-citanya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi adalah hal yang mustahil. Walau begitu saya tetap yakin, semangat, berjuang, dan berdoa. 

Pada akhirnya saya semangat untuk belajar dan mendaftar SBMPTN. Pilihan pertama Pendidikan Sejarah Universitas Jember, plihan kedua PGSD Universitas Jember, pilihan ketiga pendidikan bahasa Indonesia Universitas Jember. Pada awalnya saya tidak pernah berpikir untuk mengambil jurusan pendidikan Sejarah. Namun seiring berjalannya waktu saya berpikir seru juga yah kalau belajar sejarah. Saya suka pelajaran sejarah sejak kelas XI.

Tepat tanggal 15 Mei 2017 menjelang SBMPTN saya berangkat ke Jember. Namun sebelum berangkat saya berdoa serta mencium tangan kedua orang tua dan meminta doa restu darinya.  Hingga tibalah pelaksanaan SBMPTN.  Soal bahasa Inggris sama sekali tidak saya kerjakan bahkan soal matematikanya sulit sekali,  bisa dikatakan diluar dugaan saya. Hingga selesai pelaksanaan SBMPTN, saat kembali ke kos teman saya. Di situ saya menangis karena merasa kurang puas/maksimal saja,

             Tepat tanggal 13 Juni 2017 pengumuman SBMPTN. Hari di mana sebagian harapan telah saya panjatkan dalam setiap doa.  Pada saat itu juga saya itu  memberanikan diri untuk melihat hasilnya walau dihantui rasa takut dan jantung yang berdebar, syukur alhamdulillah dengan kuasa Allah hasilnya diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah,  Universitas Jember. Sungguh seperti mimpi hingga saya lari, sampai pada akhirnya tali sandal lepas. Tidak hanya itu, saya sangat beryukur sekali ketika diterima beasiswa bidikmisi. Sungguh saya sangat berterimakasih kepada Allah, ibu, ayah dan orang-orang yang selalu mendukungnya.

Hingga tibalah semester awal yang masih belum ada masalah. Namun semester dua dan tiga nilai IPK saya menurun hingga mendapatkan surat peringatan bahwa beasiswa akan dicabut jika ipkny semester depan masih di bawah 2,75.  Setelah pulang untuk menyerahkan undangan ke bagian kemahasiswaan saya menangis sejadi-jadinya di kamar kos. Jika ditanya kenapa nilainya bisa turun: pertama, saya kurang mampu dalam bahasa Inggris (karena memang dulu ada tugas yaitu mencari referensi berbahasa Inggris, saya gak menemukan sumbernya), dan saat mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, hal ini sangat bertentangan dengan gaya belajar saya. Dengan kata lain cara belajar saya yang tidak sesuai dengan gaya belajar. Jadi saya memiliki gaya belajar audiotori yang lebih mudah memahami dengan cara mendegarkan. Tipe gaya belajar ini tidak bisa kosentrasi jika mendengarkan hal-hal yang ramai pada saat belajar.

Pernah semseter tiga saat melakukan penelitian di sekolah tugas mata kuliah PLP, saya mendapatkan kabar bahwa salah satu teman kelompok gak ikut penelitian ke SMAN Rambipuji. Hal ini membuatnya saya bingung dan gupuh. Selain karena gak ada barengannya saya juga tidak tau SMAN Rambipuji itu di mana. Akhirnya saya menghubungi salah satu siswa yang ada di Pasirian. Ternyata cukup mengejutkan saya bahwa minggu ini mereka sudah mau rapotan. Akhirnya saya menghubungi guru saya untuk meminta tolong untuk melaksanakan penelitian di sekolah SMPN 2 Pasirian (sekolah saya dulu). Guru saya menyarankan agar segera mengurus surat izin penelitian tersebut.  Akhirnya segera saya mengurus surat izin ke dekanat Kamis sore pulang. Jumat paginya saya pun menyerahkan surat ke sekolah. Hari Sabtunya saat rapotan saya meneliti.

Saat liburan mau semester 4 saya meluangkan waktu untuk belajar bahasa Inggris. Selain itu juga saya daftar SP (Semester Pendek) mata kuliah belajar dan pembelajaran (BP), namun ternyata banyak yang membatalkan. Hal ini membuat saya sedih. Namun kabar baiknya ternyata SP BP jadi dilaksanakan, hal ini dikarenakan sudah terlanjur didaftarkan untuk mata kuliah ini. Benar saja ada tiga mahasiswa yang ikut SP pada mata kulian ini.

            Pada semester 7 sharus menelan kenyataan pahit, bahwa saya tidak bisa melaksanakan KK-PLP semester ini dan mengharuskan semester depan, karena penyakit kulit menggrogoti seluruh tubuh. Bahkan badan saya pun sakit semua, bangun dari tempat tidur dan jalan pun susah. Jika ditanya penyakitnya apa? Maka saya tidak bisa menjelaskan secara pasti.

            Semester 8, artinya saya harus magang. Awalnya kondisinya baik-baik saja. Setelah dua minggu penyakit kulitnya kambuh dan parah. Bahkan telapak kaki kanan dan kiri secara bergantian bengkak. Awalnya telapak kaki kiri yang bengkak, setelah sembuh kaki kanan yang mengalami pembengkakan, bahkan untuk jalan itu sakit.

            Hingga tepat tanggal 26 Agustus 2021 menjelang seminar proposal tiba-tiba layar LCD laptopnya jadi putih dengan kata lain mengalami kerusakan. Padahal ini masih belum selesai revisi turnutinannya. Saat mau melaksanakan penerapan medianya di sekolah tiba-tiba ayah dan ibu terpapar covid 19 secara bergantian. Hal ini membuat saya tidak bisa ke mana-mana karena melakukan isolasi mandiri.

Hingga waktu menjelang sidang, namun ternyaata harus ditunda karena berkas yang belum selesai. Tepat tanggal 27 Mei 2022 akhirnya telah dilaksanakan sidang dan gadis tersebut dinyatakan lulus.

            Hidup adalah sebuah perjuangan, yang selalu ada tantangan, namun percayalah itu akan menguatkan kita. Ingat semua orang berhak bermimpi dan berjuang. Maka berjuanglah dan lawan rasa takut itu. Tanamkan dan yakinkan dalam diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja dan pasti bisa melewati sebuah tantangan hingga pada akhirnya kita tersenyum atas sebuah keberhasilan.

Setiap orang pasti punya kekurangan dan kesalahan. Bukan berarti kita menghakimi dengan cara membully. Percayalah matahari memang tidak mampu bersinar di malam hari, bukan berarti ia tidak mampu bersinar. Begitupun dengan bintang yang akan bersinar pada malam hari, namun tidak dipagi hari.

Kita sebagai manusia harus bisa mengambil keputusan  sendiri terkait mau dibawa ke mana masa depan kita, karena kalau bukan kita yang menentukan siapa lagi? Siapa lagi yang bertanggung jawab atas masa depan kita kalau bukan kita? Lalu kalau tidak mau mengambil keputusan, apa mau hidup  berdasarkan keputusan orang lain?

                           - Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua Aaamin -

Comments

Popular posts from this blog

Antisipasi Bullying (Perundungan)

Bullying