Review Buku Allah Dekat dan Bersamamu

Judul Buku: Allah Dekat dan Bersamamu

Penulis: Muhammad Syafi ’ie el-Bantanie

Tahun Terbit: 2015

Penerbit:  PT Elex Media Komputindo

Kota Penerbit: Jakarta





 

           

 

            Buku ini mengajak kita lebih dekat dengan-Nya. Terkait bahasa yang digunakan penulis sangat mudah dipahami. Isi bukunya menarik sekali tidak hanya dipaparkan  nasihat-nasihat dari penulis, tetapi juga kisah/cerita inspiratif yang penuh hikmah tentunya sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ada  empat  kisah yang paling saya suka, di  antaranya:

Pertama adalah kisah seorang pemuda bernama Thawus yang terkenal keshalehannya di kalangan masyarakat yang membuat salah seorang perempuan penasaran dengan kekuatan imannya. Hingga pada akhirnya seorang perempuan tersebut menggodanya untuk mengajak ia berzina. Namun karena pemuda tersebut sibuk ia menyuruhnya kembali esok harinya. Setelah kembali,  tanpa disangka Thawus  mengajak perempuan tersebut  ke Masjidil Haram, di mana banyak orang sedang melakukan ibadah. Setelah di sana ia mengatakan bahwa mereka telah sampai  ke tempat tujuan untuk berbuat zina. Perempuan tersebut lalu menjawab “Apa? Berzina  di sini? Kau sudah gila, ya? ”., ujar perempuan tersebut. 

“Lho, bukankah di rumahku atau di tempat ini, Allah sama-sama melihat perbuatan yang akan kita lakukan?”, ujar Thawus. Perkataan Thawus tersebut membuat si perempuan menangis karena menyadari kesalahannya. Pada akhirnya perempuan tersebut bertaubat kepada Allah dan mengisi hari-harinya dengan beribadah.

Dari kisah ini bisa diambil pelajarannya yang pertama, kita bisa saja lepas dari pengawasan seorang manusia, namun tidak dengan Allah.  Bagaimanapun cara kita menyembunyikan sebuah kejahatan, bersembunyi ketika berbuat maksiat tetapi Allah mengetahui karena Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Kedua, ketika kita melihat seseorang melakukan sebuah maksiat tidak seharusnya kita menghakimi orang lain apalagi sampai mengatakan orang tersebut masuk neraka. Karena apa? Karena kita tidak pernah tau kedepannya dan bagaimana hubungan ia dengan Allah. Selain itu bisa jadi orang tersebut bertaubat kepada Allah dan dosanya terhapus. 

 Kedua, adalah kisah seorang santri yang putus asa karena tidak naik-naik kelas hingga dianggap bodoh oleh temannya. Hingga pada suatu hari santri tersebut pergi dari pondok pesantrennya karena sudah tidak kuat lagi. Namun di tengah perjalanan, hujan turun sehingga ia berteduh di sebuah gubuk. Sembari berteduh ia memandangi sebuah batu besar yang berlubang karena terus-menerus tertetesi  air hujan. Ia mulai berpikir dan mendapatkan  pelajaran dari batu itu. Bahwa batu yang keras saja bisa berlubang karena tetesan air hujan terus-menerus. Berarti kebodohan akan juga mencair karena tetesan ilmu yang terus-menerus. Santri tersebut akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah dan kembali ke pesantren. Ia istiqomah untuk terus belajar dan belajar. Waktunya digunakan secara optimal untuk belajar. Di kemudian hari, ternyata santri itu menjadi ulama besar, ahli hadis terkemuka, pengarang kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari yang dipelajari oleh umat Islam di dunia sampai sekarang. Santri itu tak lain adalah Ibnu Hajar Al-Asqalani. Nama aslinya hanya Al-Asqalani, tapi orang-orang memberikan julukan “Ibnu Hajar” (putra batu) karena ia mengambil pelajaran dari falsafah batu. Jadilah namanya Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Dari kisah ini bisa diambil pelajarannya yang pertama, ketika kita direndahkan orang lain  salah satunya dianggap bodoh karena nilai yang jelek, tidak seharusnya menyerah begitu saja. Saya percaya semua orang terlahir dengan memiliki potensi masing-masing. Percayalah selama kita hidup,  berdoa, dan berusaha untuk terus belajar. Percayalah kebodohan akan mencair dengan cara istiqomah,  sabar, semangat, tidak mudah putus asa dalam belajar.  Kedua tidak seharusnya kita merendahkan orang lain atas kekurangan yang dia miliki, salah satunya menganggap bodoh orang lain. Kenapa? Karena kita tidak pernah tau bagaimana kedepannya orang tersebut., bisa jadi dia menjadi orang yang hebat, berilmu, dan disegani banyak orang.

Ketiga, adalah kisah seorang raja dengan tiga penasihatnya. Tiga penasihat itu di antaranya Penasihat A, Penasihat B, Penasihat C. Seorang raja memerintah tiga penasihatnya agar memetikkan buat apel untuknya, yang masing-masing satu karung.

Namun, para penasihat berbeda-beda dalam menyikapi perintah raja. Penasihat A mengumpulkan buah apel busuk yang jatuh di tanah karena ia berpikir raja tidak akan memeriksanya. Paling-paling ini hanya untuk mengetes.

Penasihat B mengumpulkan ranting-ranting pohon apel yang kering dan memasukkannya ke karung hingga penuh. Ia berpikir sama dengan penasihat A.

 Sementara itu, penasihat C memetik buah apel yang ranum dan matang. Ia berpikir jika memberikan yang terbaik dalam tugasnya, ia juga akan memperoleh yang terbaik.

Setelah ketiga penasihat menghadap raja dengan karung masing-masing. Ternyata raja tersebut menghadiahkan apel dalam karung tersebut  untuk mereka dan keluarga. Raja pun mempersilahkan mereka memakan apel yang didapatkan.

Dari kisah ini bisa diambil pelajarannya bahwa ketika seseorang berbuat baik, maka kebaikan dan keberkahan  tersebut akan ia dapatkan, jika keburukan yang dilakukan, maka yang didapatkan adalah sebaliknya. Ketika kita melakukan ibadah (baik sholat, mengaji, mencari nafkah, mencari ilmu, dsb) harus  memberikan yang terbaik dan ikhlas karena mengharapkan ridho-Nya. Karena apa? Karena tentunya yang menuai kebaikan adalah diri kita sendiri.

Keempat, adalah kisah  seorang tukang bangunan yang telah bekerja 20 tahun di sebuah perusahaan kontruksi. Ia mengundurkan diri karena merasa lelah dan bosan. Namun saat menyerahkan surat pengunduran dirinya, seorang direktur memberikan tugas terakhir yaitu membangun sebuah rumah. Namun sayangnya tukang bangunan tersebut tidak bersemangat dan mengerjakannya dengan asal-asalan.  Setelah  jadi bangunannya,  seorang direktur memberikan  kunci rumah tersebut kepada tukang bangunan sebagai hadiah atas loyalitasnya.

Dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran bahwa ketika bekerja seharusnya menjadi seorang yang amanah dan mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak akan  pernah tau hadiah apa yang Allah berikan kepada hamba-Nya ketika amanah, ikhlas, dan sungguh-sungguh dalam berkerja. Bekerja apapun ikhlas, sungguh-sungguh, semangat dengan  mengharapkan ridho-Nya.

 

Itulah kisah yang paling saya suka dari buku ini. Selain itu di dalam buku ini yang menarik ialah paragraf terakhir sebelum pindah bab penulis memaparkan firmannya Allah.

Buku ini sangat cocok buat siapapun. Bahkan dengan membaca buku ini banyak pelajaran yang kita dapatkan dari kisah-kisah yang dipaparkan di setiap bab. Bahkan nasihat dari penulis juga penuh kelembutan, sehingga tidak rugi membaca buku ini.

Comments

Popular posts from this blog

Antisipasi Bullying (Perundungan)

Cahaya di Tengah Kegelapan

Bullying