Pondok Pesantren An-Nadliriyyah
Pondok Pesantren
An-An-Nadliriyyah
Pondok
ini diasuh oleh Ibu Nyai Hajjah Fina Nimah Nadliroh. Beliau memiliki santri
sejak tahun 1994. Pada tahun 1994 suami ibu Nyai Hajjah Fina Nimah Nadliroh yaitu
bernama Muhammad Nasih Hamid meninggal. Pada saat itulah beliau pindah dari
desanya untuk berdakwah karena atas wasiat atau amanah dari suaminya. Dakwah
pertama di daerah Sukodono Lumajang dekat Wonorejo. Selain itu suaminya juga memberikan wasiat atau
amanah untuk membentuk pengajian. Pada saat di Sukodono Ibu Nyai Hajjah Fina
Nimah Nadliroh menyewah rumah. Di sana banyak anak-anak yang mengaji hal ini
dikarenakan banyak masyarakat yang mengetahui bahwa sosok Ibu Nyai Hajjah Fina
Nimah Nadliroh adalah seorang pendakwah.
Bahkan mereka tidak hanya menitipkan anaknya di sana, tetapi juga ikut
mengaji di sana.
Mulai
awal hijrah/pindah sampai saat ini yakni di bades Ibu Nyai Hajjah Fina Nimah
Nadliroh sudah pindah tempat delapan belas kali, yang pertama itu di daerah
Sukodono di dekat wonorejo dekat terminal Lumajang (Terminal Minak Koncar),
yang kedua di Pasrujambe desa Karanganom. Maka
santrinya tidak begitu banyak,
namun setelah di Leces santrinya mulai bertambah banyak.
Setelah di Leces pindah
ke Bades sekitar antara tahun 2014 dan 2015, di sinilah dibangun pondok pesantren karena tanah yang dibeli oleh Ibu Nyai Hajjah
Fina Nimah Nadliroh cukup luas. Di
Pondok pesantren ini ada 2 sistem yaitu sekolah formal dan non formal. Sekolah fomalnya yaitu madrasah Tsawaiyah (MTS) dan Madarasah
Aliyah (MA), sedangkan sekolah non formalnya ialah madrasah diniyah yang
menjadi ciri khas pondok pesantren. Pada madrasah diniyah seratus persen belajar agama yaitu dengan
belajar kitab-kitab kuning baik kitab kuning klasik maupun kotemporer. Pada
sekolah formalnya pondok pesantren An-Nandliriyyah ini fokus pada pelajaran
umum saja (seperti bahasa Indonesia, PPKN, bahasa Inggris, dll).
Dalam pondok pesantren
ini bisa dikatakan tidak ada pergantian pemimipin. Namun pada tahun 2017 anaknya bernama Robith Abdillah Al-Hadi atau
yang dikenal dengan Gus Robith diberikan amanah
oleh ibunya untuk membantu dalam mengelola pondok pesantren.
Pada awalnya pondok ini
belum memiliki nama. Namun menyebutnya dengan jamaah manaqib, karena pada awalnya
bukan pondok pesantren melainkan
kumpulan para jamaah. Setelah tahun 2001 jamaah sudah mulai banyak, maka ada
usulan untuk pemberian nama An-Nandliriyyah. Nama ini diambil dari nama Ibu
Nyai sendiri yaitu Nadliroh yang artinya cermelang.
Terkait kegiatan santri
di pondok selain kegitan belajar mengajar antara lain: pelatihan hidroponik,
karawitan atau al-banjari, selain itu juga para santri mengikuti lomba salah
satunya lomba film, untuk ekstra kulikulernya antara lain: komputer dan
pramuka. Pondok pesantren ini juga pernah mengadakan lomba Story Telling untuk tingkat SD/MI- SMP/MTS se-Kabupaten Lumajang. Sumber
pendanaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut diperoleh dari Ibu Nyai sendiri
ataupun dari para donatur (dari para wali santri ataupun dari para jamaah).
Sumber:
Wawancara bersama Ustadz Robith Abdillah Al-hadi M. Sos. Tanggal 6 Mei 2021 dan 17 Mei 2021
Comments
Post a Comment