Review Buku "Tahun yang Tak Pernah Berakhir"

 

Judul Buku: Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65

Editor: John Rossa, Ayu Ratih, & Hilmar Farid

Penerbit: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)

Kota Penerbit Jakarta

Jumlah Halaman: 440

 



 

                Penulisan  dalam buku ini dibuat oleh tujuh peneliti menggunakan metode sejarah lisan dengan melakukan wawancara 260 orang yang merupakan korban dari G-30-S yang selamat dari pembunuhan massal dan kesehatan mentalnya yang masih baik.  Di dalam buku ini juga dijelaskan terkait kendala yang dialami peneliti sehingga ia tidak mewawancarai beberapa orang (tidak disebutkan di buku berapa jumlahnya) dikarenakan beberapa alasan yaitu waktu ditemui salah satu narasumber atau pengkisah sangat ragu-ragu dalam mengungkapkan pengalamannya, seolah ada banyak hal yang ingin disembunyikan.  Ada juga yang ceritanya tidak sesuai dengan dengan apa yang dikatakan orang lain.  Salah satu contohnya seorang eks-tapol lain yang mengaku pernah bertemu  Jimmy Carter di Pulau Buru. Padahal jelas, presiden Amerika Serikat ini tidak pernah berkunjung ke pulau itu.   Ada juga eks-tapol  lain yang begitu sulit mengungkapkan pikiran  dan pengalamannya secara lisan.

                Di dalam buku ini kita akan mengetahui fakta-fakta sejarah yang diceritakan dari para korban G-30-S . Ada beberapa fakta yang menarik setelah membaca buku ini salah satunya  terkait korban yang ditangkap ia sama sekali tidak mengerti apa kesalahan mereka,  dengan kata lain mereka kebingungan kenapa mereka ditangkap. Bahkan tuduhan terhadap orang-orang yang dianggap  anggota atau simpatisan  PKI itu  tidaklah benar. Tidak jarang tuduhan digunakan sebagai pengantar untuk melakukan tindak kekerasan terhadap tapol  seperti dipukul, dibunuh, ditendang, disetrum. Bahkah tapol perempuan ataupun istri tapol juga mengalami kekerasan seperti pemerkosaan dan pelecehan seksual seperti yang pernah dialami Ibu Nona. Pada saat penangkapan terhadap korban tidak dilakukan cek ulang benar atau tidaknya si korban anggota atau simpatisan PKI. Bahkan tidak memberi ruang kepada mereka (korban) untuk menjelaskan siapa dia sebenarnya, apalagi membela diri.

            Di buku ini juga dijelaskan bagaimana kondisi keluarga (istri dan anak), setelah suami/ayahnya ditangkap atas tuduhan  menjadi anggota atau simpatisan PKI. Bahkan ada yang mengalami diskriminasi, dikucilkan, dan ada yang dipecat dari pekerjaannya. Selain itu juga dijelaskan terkait bagaimana cara penangkapan terhadap korban antara lain: pertama penangkapan yang langsung dilakukan oleh petugas, baik unsur militer maupun kepolisian. Kedua, penangkapan dengan menggunakan massa partai atau ormas yang secara politik dan ideologi bertentangan dengan partai atau ormas PKI. Ketiga, penangkapan dengan menggunakan massa dari berbagai unsur ditambah unsur polisi dan militer, serta unsur pertahanan sipil lokal. Keempat, penangkapan dengan mengundang atau memangggil orang untuk datang dan berkumpul di tempat tertentu.  Tidak hanya itu dibuku ini juga dijelaskan bagaimana eks tapol bisa bertahan hidup setelah dipenjara karena memang mereka setelah dibebaskan sulit  untuk mendapatkan pekerjaan.

Jadi buku ini menurut saya cukup menarik untuk dibaca karena bahasanya mudah dipahami, serta membahas terkait peristiwa G- 30-S dengan melihat perspektif korban.  Dengan membaca buku ini akan mengetahui bagaimana kondisi korban dan keluarganya pada saat itu, selain itu kita juga  akan mengetahui fakta-fakta terkait peristiwa  G-S-30.

Comments

Popular posts from this blog

Antisipasi Bullying (Perundungan)

Cahaya di Tengah Kegelapan

Bullying