Mendidik Anak yang Sholeh dan Sholeha
Mendidik
Anak yang Sholeh dan Sholeha
Semua orang tua muslim
ingin memiliki anak yang sholeh, sholaha dan rajin belajar. Pertanyaannya adalah
sudahkah memberikan contoh? Sudahkan mempersipkan ilmunya (ilmu parenting) sebelum menikah?
Menurut penulis berikut adalah-hal-hal
perlu dilakukan dalam mendidik anak
1.
Ingin anaknya sholeh dan sholeha:
a) Memberikan
contoh bagaimana menjadi orang yang sholeh dan sholeha.
Contoh:
(1)
Melaksanakan serta mengajak anak
sholat tepat waktu.
(2)
Ayah yang berangkat dan mengajak anak
laki-lakinya sholat ke masjid.
(3)
Seorang ibunya meuntup aurat sempurna/sesuai yang
disyariatkan..
Menurut
ustadz Adi Hidayat ketika orang tuanya baik, maka anak akan mengikuti. Oleh
karena itu seharusnya orang tua tidak banyak menuntut anak untuk ini itu,
melainkan memberikan teladan/contoh.
b) Mengenalkan
Allah dan rasul-Nya sejak dini/kecil.
c) Mengajarkan
ilmu agama. Misal: anak perempuan kecil belum baligh diajarkan dan dibiasakan
menutup aurat meski belum wajib. Walaupun belum wajib, orang tua tetap harus
mengajarkan anaknya untuk menutup aurat, agar nanti saat baligh sudah terbiasa.
d) Memberikan
nama yang baik dan senantiasan mendoakan yang baik-baik kepada anak.
e) Memberikan
makanan ataupun nafkah yang halal.
2. Ingin anaknya rajin belajar: membaca
buku di hadapan anak, memberikan fasilitas anak (misal buku bacaan, sering
mengajaknya ke perpustakaan), dan sering membacakan buku kepada anak baik saat dalam kandungan maupun saat kecil.
3.
Ingin anaknya bertutur kata yang baik:
artinya orang tua juga harus berkata yang baik.
4. Ingin anaknya mandiri dan mampu
mengambil keputusan: maka orang tua harus membiasakan mereka mandiri sejak dini
(membereskan kamarnya sendiri dan mencucui piringnya sendiri), terbuka terhadap
pendapat anak, tidak terus-terusan mendikte anak dan melibatkan anak ketika
mengambil keputusan (misal: mengambil keputusan tempat sekolah anak).
Hal
ini seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrohim yang diabadikan dalam QS.Ash-Shaffat
(37:102) dikisahkan bahwa, maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu.”
5. Ingin anak kita dekat dan terbuka: mendengarkan pendapat anak, tidak menyela ketika anak bicara atau berpendapat, tidak mudah menghakimi ataupun menyalahkan anak.
Menurut Iqbal, M. (2018: 93) beberapa karakter yang perlu dibentuk sejak kecil:
a) Pertama, keyakinan agama (aqidah) yang
kuat. Sehingga anak menjadi tahu bahwa ia adalah seorang hamba Allah, apa yang
menjadi kewajibannya sebagai seorang hamba Allah, dan menghindari apa yang
dilarang oleh-Nya.
b) Kedua, kemandirian. Memiliki sikap yang
percaya diri, disiplin, dan bertanggung jawab.
c) Ketiga, kreatif dan inovatif. Mampu
beradaptasi terhadap perubahan zaman, optimis, dan menghasilkan karya yang
bermanfaat bagi orang lain.
d) Keempat,
kasih sayang. Sikap saling menghormati, menghargai, toleransi, peduli, membantu
satu sama lain, bekerja sama, cinta damai, serta peduli dengan lingkungan.
e) Kelima,
pemimpin yang adil. Sikap berani, adil, terbuka terhadap masukan,
senantiasa mau belajar meningkatkan kemampuan diri.
Penulis begitu memahami
bagaimana repotnya seorang ibu mengurus rumah tangga sehingga menjadikannya
lelah dan suasana hati tidak enak. Walaupun begitu tidak bisa menjadikan alasan
untuk melampiaskan ke anak. Jika suatsana hati tidak enak dan ingin marah maka
istirahatlah. Lalu bagaimana jika anak ingin main? maka katakan padanya
“InsyaAllah nanti ya sayang ibu mau istrahat dulu”, namun dengan catatan
setelah istirahat bena-benar terlaksana. Jika tidak maka anak akan merasa
dibohongi. Percayalah ketika seorang ibu
ketika lelah mengurus pekerjaan rumah akan mendaptkan pahala. Anas bin Malik r.a. berkata bahwa beberapa
perempuan pernah mendatangi Rasulullah SAW dan mereka berkata: "Wahai
Rasulullah, para lelaki mempunyai keistimewaan dapat pergi berjihad di jalan
Allah, sedangkan kami tidak punya pekerjaan yang pahalanya setara dengan para
mujahidin di jalan Allah”. Setelah
mendengar penuturan para perempuan itu maka Rasulullah SAW bersabda: "Pekerjaan rumah tangga seorang di antaramu,
pahalanya setara dengan jihadnya para mujahidin di jalan Allah
Setiap anak pasti ingin
memiliki orang tua yang penuh kasih sayang, cinta yang memberikan rasa
ketentraman, kenyamanan, dan sikap terbuka, mau mendengarkan atau tidak mengabaikan
pendapat anak. Maka didiklah mereka dengan penuh kesabaran, kasih sayang dan
cinta.
Apa hanya seorang ibu
yang berkewajiban mendidik anak?
Di
dalam al-Quran sendiri ada beberapa ayat yang membahas terkait seorang ayah
yang sedang mendidik anaknya, di antaranya:
1. QS. Luqman ayat 13
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu
ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar”. (QS. Luqman :13).
2. QS. Al-Baqarah ayah
132
Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada
anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku!
Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan Muslim.”
3. QS. Al-Baqarah ayah 133
Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan
menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami
akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan
Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”
4. QS. Hud ayat 42
Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam
gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak
itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah
engkau bersama orang-orang kafir.”
Dari beberapa ayat di atas menunjukkan peran seorang
ayah dalam mendidik anaknya. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak hanya seorang ibu
dalam mendidik anaknya, tetapi juga ayah. Hal ini selaras dengan pendapat Iqbal, M (2018: 85) bahwa berbagi peran dengan istri dalam mendidik anak boleh saja. Namun tanggung jawab sepenuhnya tetap ada pada ayah karena ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh ibu dengan dalam mendidik anak, terutama dalam hal keterampilan sosial, misal kemandirian, kepemimpinan, komunikasi, keberanian, pengambilan keputusan, daya juang, dan keterampilan hidup lainnya yang teladannya dominan dimiliki oleh seorang ayah. Hasil penelitian yang dilakukan Beatrice Whiting dalam Munn (2015 dalam Iqbal, M. 2018: 84) menyebutkan bahwa ketidakhadiran ayah menyebabkan anak laki-laki memiliki kecenderungan identitas gendernya feminim. Hal ini dipengaruhi oleh proses identifikasi anak laki-laki terhadap ibu mereka selama masa kanak-kanak, dan protes maskulinitas. Maka dapat kita simpulkan bahwa dalam mendidik anak adalah tanggung jawab kedua orang tua (ayah dan ibu), jadi penting sekali seorang laki-laki
belajar terkait ilmu parenting. Menurut penulis penting sekali pihak perempuan
ataupun laki-laki saat dalam masa taaruf menanyakan terkait pola pendidikan
yang seperti apa yang dterapkan jika memiliki anak nanti? Atau pertanyaanya
bagaimana cara kamu dalam mendidik anak?
Adakah ibu
atau orang tua yang duharka?
Menurut Buya Yahya bahwa ibu duharka di antaranya:
1. Asal
dalam memilih pasangan sehingga salah dalam memilih pasangan. Ini menunjukkan
bahwa mendidik anak itu sejak ia belum lahir dengan memilih pasangan yang
sholeh dan sholeha.
2. Tidak
dibimbing/dididik untuk mengenal Allah dan rasulnya
3. Tidak
diajarkan akhlak yang mulia
https://youtu.be/0mXaog1S3lA?si=D7wTI-KpxBuHu9pC
Diriwayatkan seorang
laki-laki pernah mendatangi Umar bin Khattab ra seraya mengadukan keduharkaan
anaknya. Umar kemudian memanggil anak laki-laki tersebut dan menghardik atas
keduharkaannya, Tidak lama kemudian anak ini berkata, “Wahai Amirul Mukminin,
bukankah sang anak memilki hak atas orang tuanya?”. “Betul” jawab Umar. Si anak
bertanya, “Apakah hak sang anak?”. Umar menjelaskan, “Memilih calon ibu yang
baik untuknya, memberi nama yang baik, dan mengajarkan Al-Quran”. Mendengar
jawaban itu Si Anak protes, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak
melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah
wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang Majusi, ia menamakanku Ju’kab (Kumbang),
dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an.” Umar segera memandang
orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan
keduharkaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia
menduharkaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.” (Hasan, A.F. 2021: 15)
Menurut Aisyah, ra,
Rasulullah biasa mengganti nama yang jelek dan mengubahnya menjadi nama yang
bagus. Dulu anak perempuan Umar bernama Ashiyah (Durhaka). Kemudian diganti
oleh Rasullullah dengan nama Jamilah (Cantik) . Rasulullah saw menekankan kepada
orang tua agar memberi nama dan panggilan yang baik untuk anak. Selain
mengandung doa, juga menjadi panggilan di akhirat kelas, “Sesungguhnya kalian
akan dipanggil nanti pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama
bapak-bapak kalian. Maka perbaguslah nama-nama kalian,” demikian bunyi hadis
diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan Ad-Darimi (Hasan, A.F. 2021:15-16)
Apa
hanya uang dan fasilitas sekolah yang dibutuhkan sama anak?
Gambar di atas menujukkan teori
hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow. Maslow mengemukakan bahwa setiap
manusia mengalami tahap-tahap peningkatan kebutuhan atau pencapaian dalam
kehidupannya. Kebutuhan tersebut meliputi: Kebutuhan fisiologis
(Physiological), meliputi kebutuhan akan pangan, pakaian, tempat tinggal maupun
kebutuhan biologis. Kebutuhan keamanan dan keselamatan (Safety), meliputi
kebutuhan akan keamanan kerja, kemerdekaan dari rasa takut ataupun tekanan,
keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancam, Kebutuhan rasa memiliki,
sosial dan kasih sayang (Social), meliputi kebutuhan akan persahabatan, berkeluarga,
berkelompok, interaksi dan kasih sayang, Kebutuhan akan penghargaan (Esteem),
meliputi kebutuhan akan harga diri, status, prestise, respek dan penghargaan
dari pihak lain, Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization), meliputi
kebutuhan untuk memenuhi keberadaan diri (self fulfillment) melalui
memaksimumkan penggunaan kemampuan dan potensi diri.
Terlihat bahwa kebutuhan manusia
berdasarkan pada urutan prioritas, dimulai dari kebutuhan dasar, yang banyak
berkaitan dengan unsur biologis, dilanjutkan dengan kebutuhan yang lebih
tinggi, yang banyak berkaitan dengan unsur kejiwaan, dan yang paling tinggi
yaitu aktualisasi diri tersebutlah yang dimaksud dengan kebutuhan spiritual. Maslow
mendefinisikan aktualisasi diri sebagai sebuah tahapan spiritualitas seseorang,
di mana seseorang berlimpah dengan kreativitas, intuisi, keceriaan, sukacita,
kasih, kedamaian, toleransi, kerendah-hatian, serta memiliki tujuan hidup yang
jelas, dan misi untuk membantu orang lain mencapai tahap kecerdasan spiritual
ini (Solikin, A. 2013).
Dalam perspektif psikologis, tanggung jawab seorang ayah adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarga, termasuk kebutuhan mendidik, memberi rasa aman, kasih sayang, dan bukan hanya kebutuhan ekonomi saja (sandang, papan, dan pangan) (Iqbal, M. 2018: 84). Jadi dapat disimpulkan bahwa kebutuhan anak bukan hanya uang, makan, fasilitas untuk sekolah, tetapi juga kasih sayang, kepedulian, apresiasi, dukungan, penghargaan, dihargai, didengarkan pendapatnya, dilindungi, mendapat kepercayaan, dukungan ataupun dorongan untuk mengasah potensi diri, ketenangan, dan hal yang berkaitan dengan spiritual. Menurut Solikin, A (2013) bahwa spiritual kebutuhan tertinggi manusia.
Bagaimana Jika
Anak Melakukan Kesalahan?
1.
Jangan langsung menghakimi anak. Jika kita sudah
tahu sendiri dan lihat langsung, maka tanyakan saja alasannya.
2.
Tanyakan padanya apa yang terjadi atau penyebab
hal tersebut dilakukannya
3.
Jika ia jujur apresiasi dia
4.
Ungkapkan perasaan kita sebagai orang tua
5.
Ajari ia tanggung jawab
Misal seorang anak yang membuang
makanan, maka tannyakan “Apakah kamu yang membuangnya?”, “Kenapa kamu
membuangnya”, “Ibu apresiasi atas kejujuranmu, namun Ibu sedih dan kecewa
karena kamu menyia-nyiakan rezeki dari Allah”. Lalu sang ibu menjelaskan bahwa
tidak baik membuang makanan dan menunjukkan video yang memperlihtakan banyak
orang kelaparan. Ibu tersebut juga menjelaskan kenapa tidak boleh membuang
makanan.
Contoh lain: Anak tidak sengaja
memecahkan piring saat mau menyerahkan piring kotonya ke dapur, maka ia diajarkan untuk bertanggung jawab
dengan menyuruhnya untuk membersihkan pecahannya “MasyaAllah Nak luar biasa mau
membantu Ibu, tetapi piringnya pecah, harus lebih hati-hati yah. Sekarang kamu
bersihkan! Ibu bantu”.
Contoh di atas menunjukkan orang
tua yang mengajarkan mereka bertanggung jawab, menjelaskan alasan kenapa tidak
boleh, dan mendengarkan terlebih dahulu alasannya. Ini lebih baik daripada
langsung marah, menghakimi, menyalahkan, sumpah serapah, mengatakan hal-hal yang
buruk terhadap anak, apalagi sampai
mendoakan anak yang jelek-jelek. Hal tersebut dikarena ucapan adalah doa. Tahukah imam Masjidil Haram yang paling terkenal saat ini, beliau Abdurrahman As-Sudais. Saat Abdurahman masih kecil dan nakal, sang Ibu selalu memarahinya
dengan berkata, “Abdurrahman, jangan nakal! Ibu doakan kau menjadi imam
Masjidil Haram” (Teladanrasul. 2014: 63). Ini menunjukkan bahwa semarah-marahnya orang tua jangan sampai mengucapkan sumpah serapah atau
berkata yang tidak baik. Lebih baik berkata “Semoga kau menjadi anak sholeh dan
sholeha”, “semoga kau menjadi ahli ibadah dan ilmu yang taat”.
Daftar
Pustaka
Hasan, A.F. 2021. Lisan yang Merusak Akhlak. Jakarta: Gramedia
Iqbal, M. 2018. Psikologi Pernikahan. Depok: Gema Insani
Teladanrasul. 2014. Open Your Heart, Follow Your Prophet. Jakarta Selatan: PT AgroMedia
Pustaka
Solikin, A. 2013. ESQ dan Kebutuhan Spiritualitas
Civitas Akademik. Anterior Jurnal. 12
(2): 74-84

Comments
Post a Comment