Peranan Orang Tua dalam Memutus Rantai Perundungan/Bullying
Peranan Orang Tua dalam Memutus Rantai Perundungan/Bullying
Memutus
rantai perundungan/bullying tentu
tidak mudah, yang harus menjadi perhatian tentunya bukan hanya korban, tetapi juga
pelaku bullying. Ada beberapa faktor
alasan seseorang menjadi pelaku bullying yang pertama merasa harga dirinya
rendah, tidak aman, dan pernah menjadi korban. Upaya memutus rantai perundungan
berawal dari rumah. Ini menunjukkan peranan orang tua yang sangat penting dalam
upaya memutus rantai perundungan/bullying. Berikut adalah peranan orang tua
jika dikaitkan dengan faktor penyebab seseorang menjadi pelaku bullying:
A.
Merasa harga dirinya rendah. Maka hal yang
dilakukan orang tua dengan membangun harga diri anak, caranya antara lain:
1)
Menghargai dan memotivasi anak
2)
Mendorong, mendukung, memfasilitasi anak dalam
mengasah keterapilan dan potensi yang dimilikinya, sehingga menumbuhkan rasa
percaya diri anak. Contoh anak yang suka melukis maka orang tua membelikan alat
luis, dan mendaftarkan kursus dan lomba melukis (sesuaikan dengan bakatnya
anak).
3)
Beri apresiasi/penguatan positif jika anak
berbuat positif ataupun juara (baik akademik maupun non akademik)
4)
Tidak mempermalukan anak di hadapan orang lain
apalagi temannya.
5)
Ajak anak pada kegiatan sosial ataupun yang lain
yang membawa manfaat ataupun berdampak positif terhadap orang lain. Contoh:
Berbagi takjik saat bulan ramdhan, sedekah nasih bungkus di hari Jumat.
6)
Tidak merendahkan (mengolok-olok) anak, apalagi
sampai membully
B.
Merasa tidak aman. Maka hal yang dilakukan orang
tua antara lain
1)
Memberikan kasih sayang kepada anak, dengan
mengisi tangki cinta anak dengan bahasa cinta yang sesuai dengan mereka
(biasanya 2 paling dominan):
a.
Words of affirmation (Kata-kata dan Pujian). Ciri-ciri seseorang yang
memilki bahasa cinta ini yaitu sering memuji, menyemangati, mengapresiasi, mengekspresikan
kasih sayang melui kata-kata contoh (aku sayang sama Bunda, terima kasih Ibuku
tersayang muah). Jika anak memiliki bahasa cinta kata-kata dan pujian maka (1)
berikan apresiasi dan puji jika ia berbuat baik, menang lomba, (2) beri surat yang mengekspresikan
kasih sayang dan motivasi/menyemangati.
b.
Physical touch (sentuhan fisik). Ciri-ciri
seseorang yang memiliki bahasa cinta ini yaitu suka memeluk, nempel, cium. Jika anak memiliki bahasa cinta sentuhan fisik maka
(1) berikan pelukan yang hangat, ciuman.
c.
Acts of service (tindakan
atau memberikan bantuan). Ciri-ciri seseorang yang memiliki bahasa cinta ini yaitu
suka membantu orang tua (misal membawakan tas belanjaannya, menyapu) ataupun
orang lain. Jika anak memiliki bahasa cinta
pelayanan/tindakan/memberikan bantuan maka berikan ia bantuan jika dibutuhkan
ataupun diperlukan, ataupun saat anak mengalami kesulitan, dan memberikan
pelayanan (misal membuatkan dan menyediakan kue ataupun makanan kesukaan anak).
d.
Gifts giving (memberi hadiah). Ciri-ciri
seseorang yang memiliki bahasa cinta ini yaitu sering memberikan hadiah entah
berupa gambar yang dibuatnya, makanan, ataupun barang. Jika
anak memiliki bahasa cintanya pemberian hadian maka yang perlu dilakukan adalah
memberikan hadiah, dan hadiah yang ia berikan simpan baik-baik agar tak
menyakitinya.
e.
Quality
time (menghabiskan waktu bersama). Ciri-ciri
seseorang yang memiliki bahasa cinta ini yaitu suka ngobrol, meluangkan waktu
bersama orang yang sayangi, liburan bersama, dan suka ditemani ketika
berpergian ataupun ke mana saja. Jadi intinya mereka suka menghabiskan waktu
bersama orang yang tersayang. Jika anak
memiliki bahasa cintanya quality time (menghaniskan
waktu bersama/waktu berkualitas) yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu
untuk menemani anak bermain, liburan bareng, sekedar ngobrol, ataupun nonton hal
yang positif (kajian Islam ataupun fiqih).
2)
Menjadi teman cerita anak
3)
Menjadi pendengar yang aktif bagi anak
4)
Saat ada kesalahan tidak langsung menghakimi
anak, tetapi memberi ruang anak untuk bercerita. Sehingga anak bisa nyaman,
terbuka. Setelah itu cari solusi dari akar permasalahan yang telah terjadi.
C.
Pernah menjadi korban bullying.
1)
Tidak menghakimi anak (menyalahkan anak). Misal:
Pantas saja dibully kamu sih memang.
2)
Berempati, dan memvalidasi perasaannya. Contoh
misal anak mengalami bullying relasional (pengucilan, pengecualian): Adik sedih,
kesepian dan kecewa ya? Gapapa Dik itu wajar. Apapun yang terjadi dalam hidup
Adik, Adik tetap berharga dan punya Allah. Adik kalau sedih boleh mengadu sama
Allah. Gapapa kalau mereka gak mau temanan sama Adik, kita gak bisa memaksa
orang lain untuk temanan sama kita. Percayalah banyak orang yang sayang sama
adik ada Allah, ibu, ayah, dan pasti ada orang lain di luar sana yang sayang
sama Adik. Adik percayakan sama ibu? Apapun yang terjadi, Allah dan insyaAllah ibu menemani Adik. Ibu
siap jika menjadi teman cerita Adik. Ibu sayang sama Adik.
3)
Membangun harga diri anak (caranya sudah tertera
di poin A)
4)
Memberikan rasa aman terhadap anak (caranya sudah
tertera di poin B)
5)
Mengajarkan dan menumbuhkan rasa empati. Misal: (1)
mengajak anak ke panti asuhan untuk berbagi, (2) menjenguk teman, kerabat/saudara
yang sedang sakit.
6)
Melatih anak dalam keterampilan sosial misal
mengajak anak untull silaturahmi ke ruma keluarga (nenek, kakek, tante, paman,
dsb). Bisa juga mengajak anak kita untuk berbagi takjil saat bulan Ramadhan.
7)
Memberikan contoh sikap dan etika yang baik.
8)
Mengajarkan anak untuk mengatasi ataupun
menyelesaikan konflik secara damai dan konstruktif. Misal dengan cara meminta
maaf jika salah, ataupun berbicara empat mata, menjadikan seseorang mediator (mediasi),
dan lain-lain.
9)
Meminta bantuan profesional jika diperlukan (misal
anak mengalami trauma akibat bullying).
10)
Mengawasi perilaku anak dan memastikan anak
tidak menjadi pelaku bullying.
Comments
Post a Comment